MENGEVALUASI PERMASALAHAN JARINGAN FIBER OPTIC | TJBL
Mengevaluasi Permasalahan
Jaringan Fiber Optic
Mengingat kembali tentang pengertian fiber optic adalah salah satu transmiter yang memiliki sedikit sekali kendala, itu dapat dibuktikan dengan sangat pesatnya perkembangan penggunaan fiber optic di dalam bidang telekomunikasi. Kabel fiber optic dibedakan menjadi 3 jenis, yaitu single mode step index, multi mode step index dan multi mode gradde index, dimana pada umumnya tipe multi mode biasanya dipakai untuk jarak yang dekat, sementara single mode untuk jarang yang cukup jauh. Fiber optic sendiri sangan besar sekali kapasitas untuk transfer datanya. Fiber optic sangat cocok sekali dengan keadaan geografis di indonesia khususnya di Jawa, karena daerahnya tidak terlalu banyak
A. Gangguan dan Troubleshooting Fiber Optic
Pada saat melakukan Instalasi terjadi beberapa masalah, yaitu pada saat pengecekan koneksi ternyata koneksi belum sepenuhnya berjalan dengan lancar, dan loss yang dihasilkan sangat besar atau tidak memenuhi standar loss yang direkomendasikan yaitu RX sensitivity-nya antara-22 s/d 24d, pada saat dilakukan penghitungan ternyata loss yang dihasikan adalah -38 dB, setelah tim men-troubleshooting masalah ini mulai dari konstruksi kabel apakah ada bending atau kabel yang patah, penggunaan attenuator yang tepat, setelah beberapa tindakan tersebut dilakukan ternyata loss yang dihasilkan masih saja besar.
Tim instalasi sempat mengganti atau men-splice ulang patch cord karena diasumsikan hasi splicing-nya kurang maksimal, ternyata tindakan tersebut juga tidak merubah hasil penghitungan loss yang direkomendasikan.
Setelah tim melakukan pengecekan ulang di OTB ternyata sumber masalah ditemukan yaitu konektor FC yang masuk salah satu port di OTB tidak tertancap sebagaimana mestinya, inner dari konektor tersebut tidak masuk secara tepat. Hal inilah yang ternyata menyebabkan loss yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang direkomendasikan.
Dari problem pada saat instalasi kali ini dapat diambil beberapa kesimpulan supaya hal yang sama tidak terjadi kembali, untuk meminimalisasikan terjadinya problem tersebut, dapat disimpulkan berapa hal diantaranya:
- Pastikan kabel fiber yang digunakan bersih dan tidak patah atau rusak.
- Pada saat splicing pastikan loss yang dihasilkan seminimal mungkin. Atau mencapai RX sensitivity
- yang direkomendasikan yaitu -22 s.d-24 dB.
- Pada saat memasukan konektor ke salah satu port di OTB pastikan inner-nya masuk secara tepat. (jika hal ini tidak diteliti dengan baik maka pada saat melakukan pengukuran dengan power meter, maka loss yang dihasilkan akan besar).
- Pada saat pengukuran dengan power meter pastikan gelombang yang digunakan sama. Bila terjadi beberapa masalah, maka cek beberapa keterangan konfigurasi di bawah ini diantaranya adalah:
1. Failure of ONU to range.
a. Fiber yang kotor.
b. Sinyal degradasi.
- Kabel fiber terlalu panjang.
- Kabel fiber rusak.
- Bad connections/fiber plant components.
- Laser/receiver tidak berfungsi.
c. ONU ID# conflict
2. Loss permanent pada frame/pattern di TDM.
a. Konfigurasi kabel yang salah.
b. Ports/Channels/Board tidak aktif.
3. Tidak bisa telnet ke SCC management port (pada OLT).
Konfigurasi yang salah pada SCC IP parameternya.
4. No IP traffic.
a. VLAN membership yang salah.
b. Ports tidak di enabled.
B. Mengatasi Gangguan Jaringan Akses Fiber Optic
1. Gangguan pada jalur kabel fiber optic
Gangguan pada jalur kabel fiber optic dapat terdiri dari.
a. Serat Optik Putus
Hal-hal yang dapat menyebabkan serat optik putus adalah sebagai berikut.
1) Pengaruh mekanis:
- Pohon roboh/tumbang menimpa jalur kabel udara.
- Jalur kabel udara terkena benang layang-layang.
- Tiang roboh
- Force majeur
2) Pengaruh instalasi
Penarikan kabel optik dilakukan dengan gaya tarik.
b. Crack (Patahan/Retak)
Crack atau retakan pada serat optik dapat menyebabkan loss refleksi. Hal-hal yang dapat menyebabkan serat optik retak adalah sebagai berikut.
- Crush
- Bending radius
- Impact
- Torsion
- Vibrasi
C. Perembesan Air
Proses penanganan gangguan pada jalur kabel serat optik adalah sebagai berikut.
1) Penerimaan tanda gangguan
Dengan adanya laporan gangguna dari sentral transmisi yang menyatakan sistem jatuh, maka melalui CTF dapat ditentukan jalur/kabel serat optik yang terganggu.
2) Estimasi lokasi gangguan
2. Cara Mengatasi Gangguan
Berikut cara mengatasi gangguan, atara lain sebagai berikut:
a. Patroli jaringan
1) Dilaksanakan dengan menyusuri seluruh rute kabel mulal dari FJB pada satu STO ke STO lain.
2) Hal-hal yang dapat diamati dalam patroli jaringan antara lain:
- Tiang
- Temberang
- Aksesoris
- Rute dan kabel
b: Pemeliharaan rutin dan potong-potong.
c. Pengukuran spare kabel
d. Perbaikan spore core (storing core).
3. Beberapa hal yang mempengaruhi performa fiber optic
a. Loss, yang diakibatkan oleh panjang span fiber dan banyaknya splicing di sepanjang span fiber tersebut. Besarnya loss dari suatu span fiber bisa diukur dengan menggunakan OTDR.
b. Dispersi, seiring dengan bertambahnya usia fiber maka dispersi pada fiber optic tersebut semakin jelek, dispersi ada 2 macam:
1. Chromatic dispersion (CD), dispersi ini diakibatkan oleh variasi fiber index (karakteristik fiber) dengan panjang gelombang, Hal ini menimbulkan delay antara panjang gelombang dengan pulsa transmisi cahaya sehingga sinyal yang ditransmisikan menjadi cacat dan menimbulkan distorsi dan naiknya BER (Bit Error Ratio).
Chromatic dispersion bisa diukur dengan menggunakan chromatic dispersion meter. Selain itu pada sebuah percobaan mengenai hubungan antara suhu dan chromatic dispersion, kesimpulan yang didapat adalah salah satu penyebab penurunan kualitas sinyal pada jaringan fiber optic adalah chromatic dispersion yang berfluktuasi yang dipengaruhi oleh suhu kabel fiber optic.
Chromatic dispersion bisa diatasi dengan membuat chromatic dispensation dengan membuat semacam spoel atau gulungan fiber optic untuk mengkompensasi cacatnya sinyal yang ditransmisikan.
2. Polarization Mode Dispersion (PMD), PMD diakibatkan oleh berubahnya bentuk fiber optic yang diakibatkan suhu, kelembapan atau adanya tarikan fiber yang bengkok. Dalam hal ini seharusnya fiber optic berbentuk bulat dan lurus tapi pada praktiknya akibat suhu, kelembapan dan pergeseran bumi bentuk fiber optic menjadi tidak bulat (misalnya lonjong) dan bengkok.
Faktor lain yang menyebabkan polarization mode dispersion proses pembuatan yang kurang sempurna. Pada kabel fiber optic single mode, sebenarnya terdiri dari kabel dua mode yang memiliki polarisasi yang sama. Dalam fiber optic yang sempurna sinyal yang dilewatkan pada dua mode ini berjalan pada kecepatan yang sama, tetapi dalam kenyataannya, ketidaksempurnaan fabrikasi membuat sinyal menjadi asimetris dan dapat menyebabkan mode memiliki kecepatan propagasi berbeda. Perbedaan kecepatan ini disebut Differential Group Delay (DGD) dan PMD adalah koefisien statistik-normalisasi
c. Rusaknya Sealed dan Jacket Fiber
Fiber Sealed dan Jacket Fiber akan semakin jelek, misalnya mengeras kemudian pecah
C. Pemeliharaan , Perawatan , dan Perbaikan Jaringan Berbasis Fiber Optik
1. Pemeliharaan Rutin
a. Pemeliharaan perangkat SKSO/OLTE.
1) Pemeliharaan Harian Check-list Perangkat OLTE.
2) Pemeliharaan Mingguan.
Agar peralatan pada perangkat siap pakai sewaktu-waktu, maka perlu dilakukan pemeliharaan setiap minggu satu kali yang meliputi pengecekan, pengetesan, dan pembersihan fisik antara lain sebagai berikut:
a) Alat sambung kabel serat optik (splicer).
c) Generator Set.
d) Mobil SKSO.
e) Alat komunikasi (Talk Set).
f) Power Meter.
g) Sarana penunjang lainnya.
3) Pemeliharaan Bulanan
a) Pengecekan Manhole/Handhole
Untuk menghindari gangguan pada titik sambung (joint closure) akibat masuknya air/lumpur dan menghilangnya tanda-tanda yang terdapat pada kabel pada Manhole/ Handhole perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:
- Bersihkan/kuras Manhole/Handhole yang terdapat pada titik sambung kabel optik secara rutin sesuai jadwal pemeliharaan.
- Cek kondisi stopper yang menutupi lubang-lubang polongan, bila terjadi penyimpangan segera diadakan perbaikan untuk mencapai kondisi seharusnya.
- Cek kondisi kabel dan penyangga kabel beserta aksesorisnya, bila ada yang kurang/ terlepas segera diperbaiki/diganti.
- Mengganti tanda pada kabel jika tanda pada kabel yang sebelumnya hilang, untuk mempermudah mengetahui jenis kabel yang ada pada Manhole/Handhole tersebut.
- Cek kondisi tutup Manhole/Handhole bila ada yang rusak atau catnya kusam segera digant/dicat ulang
- Sehabis bekerja pada Manhole/Handhole jangan lupa menutup kembali tutup Manhole/Handhole dengan rapat dan sempurna
- Memberi tanda berupa patok pada Manhole/Handhole yang berada pada posisi rawan, persawahan dan perbukitan.
b) Patroli Kabel Serat Optik Tanah (Burled Cable)
Pelaksanaan patroli dengan menelusuri rute kabel sejauh 6 km/hari, agar situasi dan kondisi kabel optik dapat diketahui perlu dilakukan hal-hal sebagai berikut:
- Cek pipa besi galvanis jembatan kabel pada penyeberangan sungai.
- Cek tiang beserta aksesorisnya, pondasi dan kawat duri sebagai pengaman, bila terjadi kerusakan segera dilaksanakan perbaikan.
- Cek rute dan tanda rute (rambu-rambu) untuk mengetahui kondisi lingkungan disekitar rute kabel, apabila terdapat hal-hal yang membahayakan kabel serat optik, misalnya longsor, rumput tinggi dan pepohonan, kegiatan penduduk karena adanya pemukiman baru, serta proyek PU/PERUMKA maka segera diambil langkah-langkah pengamanan maupun perbaikan.
- Cek lokasi Manhole/Handhole tempat sambungan, untuk mengetahui kondisi lingkungan sekitar, bila terjadi hal-hal yang membahayakan segera dilaksanakan langkah pengamanan
- Mengganti tanda rute kabel yang berupa patok apabila patok yang lama hilang/rusak oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.
c) Patroli Kabel Serat Optik Udara (Aireal Cable)
- Cek pepohonan dan rerumputan sekitar rute yang dilewati kabel serat optik, bila
- membahayakan perlu dilakukan perambahan dan pemotongan.
- Cek kondisi joint closure yang berada di tiang atau di Handhole, bila membahayakan perlu dilakukan pengamanan.
- Patroli dilaksanakan dengan jalan kaki menelusuri rute kabel sejauh 7 km/hari, agar situasi kabel dapat diketahui sedini mungkin.
d) Pengukuran tegangan input maupun output perngkat OLTE
4) Pemeliharaan 6-Bulanan:
Pengukuran core yang kosong dilakukan dua kali dalam setahun yang meliputi :
a) Mendeteksi peningkatan loss kabel (dB/km).
b) Mendeteksi peningkatan loss pada titk sambung.
c) Mendeteksi kerusakan fisik serat optik (lokalisir gangguan).
d) Pengukuran Optical Output Power OLTE.
5) Pemeliharaan Tahunan
a) Pengukuran BER (Bit Error Rate) tingkat E-1 atau STM-1 yang idle
b) Alarm test.
c) Pengukuran Sensitivitas dan Margin Receiver
b. Pemeliharaan Jaringan Kabel Optik.
Pemeliharaan jaringan kabel optik terdiri dari
a.Pemeliharaan 2-Mingguan:
1) Patroli Jarkab optik kabel udara.
2) Patroli Jarkab optik kabel tanah.
3) Patroli Jarkab optik kabel duct.
b. Pemeliharaan 6-Bulanan:
- Pengukuran Core Optik yang Ide meliputi: - Kontinuitas fiber optic (OTDR).
- Redaman total antarterminal (Laser Source dan Power meter).
2. Pemeliharaan Dadakan
a.Pemeliharaan Dadakan Perangkat SKSO/OLTE.
Pada kondisi operasi normal (tidak terjadi ganguan sistem): Pada waktu terjadi gangguan pada sistem maupun perangkat, untuk mengatasi hal ini maka modul yang mengalami alarm segera diganti.
b.Pemeliharaan Dadakan Jaringan Kabel Optik
Pemeliharaan dadakan pada kabel serat optik terjadi apabila kabel serat optik yang digunakan sebagai media transmisi terputus. Putusnya kabel serat optik ini dapat terjadi karena beberapa faktor, yaitu terkena senapan angin, gesekan benang layang-layang, proyek pemerintah, dan kegiatan
masyarakat.
Sawahlunto, 9 Mei 2023. -Daffa Arriza
.jpg)



Komentar
Posting Komentar