JOBSHEET FIBER OPTIK | TJBL

 

SMKN 1 SAWAHLUNTO

LEMBARAN : JOB SHEET 1

JURUSAN : TEKNIK KOMPUTER JARINGAN

MAPEL : TEKNOLOGI JARINGAN BERBASIS LUAS

WAKTU : 6 X 45

TOPIK :

KODE : -

JUDUL :

 

A.   Tujuan

    Setelah praktikum ini peserta diharapkan dapat:

1.     Siswa dapat Mengumpulkan data tentang Penyambungan Fiber Optic

2.     Siswa dapat Mengetahui Proses Penyambungan Fiber Optic

3.     Siswa dapat Mengolah data tentang penyambungan Fiber Optic

4.     Siswa dapat Mengetahui Alat dan K3 Proses Penyambungan Fiber Optic

 

B.    Alat Dan Bahan

1.     Fusion Splicer

2.     Stripper Atau Miller

3.     Cleaver

4.     Optical Power Meter (OPM)

5.     Optical Time Domain Reflectometer (RTDR)

6.     Light Source

7.     Optical Fiber Identifier

8.     Visual Fault Locator

9.     Bit Error Rate Test

 

C.   Teori Pendukung

Teknologi fiber optic atau serat cahaya, mampu menjangkau dengan jarak yang besar dan mampu menyediakan perlindungan terhadap gangguan elektrik. Kecepatan transfer data mampu mencapai 1000 mbps dengan jarak satu segment dan dapat leboh dari 3.5 km. Kelebihan lain kabel serat cahaya tidak mudah terganggu terutama pada lingkungan, cuaca, dan panas. Demikianlah penjelasan lengkap seputar pengertian fiber optik, cara kerja serta kekurangan dan kelebihannya dalam dunia telekomunikasi. Meskipun membutuhkan biaya yang mungkin dapat menguras kantong dalam instalasi, namun hal ini tidak lah menjadi masalah. Karena hal ini didukung oleh kualitas jaringan yang super cepat dan tahan lama, sehingga sangat baik digunakan dalam kegiatan komersial atau yang lainya.

 

Terdapat 3 metode yang menjadi pilihan dalam melakukan penyambungan kabel serat optik, yaitu:

1. Metode Fusion Splice


Metode ini merupakan metode penyambungan dengan cara Fusi (peleburan) sesuai titik lebur serat optik. Penyambungan ini biasanya dilakukan pada jaringan akses, metro dan long distance.
Adapun proses penyambungan dengan metoda ini diperlukan beberapa tahapan proses antara lain: 


a.      Proses persiapan yang meliputi pengupasan coating dan cladding, keduanya adalah lapisan pelindung inti fiber. 

b.     Pengupasan gunakan spesial alat kupas serat optik (fiber stipper tool)

c.      Pembersihan fiber optik dengan mengunakan tisue yang dibasahi alkohol 90%.

d.     Pemotongan inti fiber dengan menggunakan alat fiber cleaver atau yang sejenis.

e.      Penyambungan yang meliputi alignment, position dan fusion kemudian menampilkan posisi titik sambung serta nilai loss fiber.

f.       Pemasangan fiber heat shrink sleeve untuk melindungi sambungan fiber agar tidak mudah patah.

Dengan menggunakan metode ini dibutuhkan sumber daya yang sudah berkompeten di bidangnya, serta memerlukan ketelitian dan kesabaran yang tinggi.


Metode Mechanical Splice adalah metode penyambungan dengan cara mekanik. Untuk melakukan penyambungan dengan sistem mekanik ini, diperlukan mechanical splice assembly serta perangkat tool kit set, penyambungan dengan metoda ini tidak diperlukan catuan listrik. Persiapan penyambungan dilakukan seperti pada point 1 butir a sampai dengan c kemudian proses penyambungan dilakukan dengan menempatkan kedua ujung fiber optik pada V grove dari mechanical splice.


2. Metode Mechanical Splice



Langkah berikutnya, dilakukan pengaturan agar kedua ujung fiber optik bertemu pada medium mechanical splice. Kemudian handle pada mechanical splice didorong ke bawah sehingga dapat menekan cap dari mechanical splice. Sambungan dengan sistem mechanical splice ini relatif mudah dan tidak memerlukan catuan listrik seperti yang ada pada fusion splicer, namun hasil ukur dari sambungan ini berkisar pada 0.2 dB.

 

3. Metode Connector Splice


Metode ini adalah metode penyambungan fiber optik dengan menggunakan konektor, adapun sistem ini mempercepat sistem penyambungan. Sistem penyambungan dengan konektor hanya memerlukan material konektor saja sebagai titik sambung namun untuk semua persiapan sama dengan fusion splice dan mechanical splice.


Konektor fiber optik terdiri dari dua jenis, konektor model ST yang berbentuk lingkaran dan konektor SC yang berbentuk persegi. Penggunaan ini harus disesuaikan dengan jenis perangkat yang digunakan karena mereka mungkin berbeda. Sistem splice fast connector ini dapat dilepas ataupun dipasang kembali sehingga lebih fleksibel tanpa memerlukan material tambahan. Sedangkan nilai redaman yang terjadi pada sistem ini berkisar 0.15dB.

Akan tetapi dengan sistem ini mempunyai kerugian lain yaitu pantulan (reflection) pada guide pin connector yang diakibatkan perpindahan medium antara kedua guide pin connector yang disambungkan. Sedangkan besaran loss akibat refleksi tersebut tergantung pada struktur guide pin connector dan proses penyambungannya.

Dari ketiga sistem penyambunagn fiber optik tersebut di atas dapat ditarik kesimpulan yaitu :

  1.  Rugi daya sinyal pada saat penyambungan disebabkan oleh cara penyambungan itu sendiri.

  2.  Sistem penyambungan dapat tentukan dengan mempertimbangkan kualitas sambungan.

  3. Hasil penyambungan dengan menggunakan sistem fusion splice akan lebih baik dari kedua sistem penyambungan yang lain.

  4.  Penyambungan dengan sistem mechanical dan connector nilai redaman tidak bisa diketahui langsung.

Akhirnya bahwa setiap pelaku instalasi kabel fiber optik dirasa sangat perlu mempertimbangkan dan memilih metode yang paling tepat dan cepat di dalam pelaksanaannya. 

Komentar

Postingan Populer